Surat Untuk Rix (8)
Saya tidak berencana menuliskan apa pun untukmu hari ini, Rix. Tapi ...
Rasanya saya ingin membenci apa pun yang ada di pikiran saya sekarang.
Mengapa kata-kata yang sesunyi itu harus seribut ini?
Mengapa kata-kata itu betah dalam ingatan?
Mengapa...
Semua aksara datang silih berganti, susah payah saya buang. Kau tahu, seharian ini saya gagap bercakap; saya gugup bertindak. Saya ketakutan.
Di antara sekian banyak hal dalam ingatan, mengapa kata-kata adalah hal yang paling tidak bisa saya lupakan? Mengapa mereka selalu kembali? Berteriak dalam kepala, seakan semua aksara meminta jatah untuk diucapkan lagi, lagi dan lagi; membawa tanya yang (mungkin) tidak pernah ada jawabannya, membuat luka yang (mungkin) tidak pernah ada obatnya, menjadikan saya seseorang yang (mungkin) bukan diri saya.
Demi semesta, ingin sekali saya menukar semua kata-kata yang pernah datang dengan kata-kata yang baru, yang (jauh) lebih baik, yang (mungkin) menyenangkan,
yang (semoga bisa) menenangkan.
Ah, kadang saya pikir bahkan jika pun kata-kata yang baru itu adalah kata-kata yang menipu, itu pun tidak apa assalkan saya mendengar dari orang yang saya inginkan (dia). Saya akan tetap memaksanya masuk ke dalam kepala (dan hati) hanya supaya semua kata-kata yang sudah ada itu tergantikan, menjadi ingatan yang lebih baik, lebih damai,
dan lebih sunyi.
Seputus asa itu saya Rix.
Jadi, maaf, saya menulis surat lagi untukmu. Baik-baiklah kau, di semesta mana pun kau berada. Jangan buru-buru pulang dalam kepala saya, nanti saya tidak bisa cerita banyak hal.
Biarkan saya 'menabung' cerita dulu.
Salam,
Dian
Komentar
Posting Komentar