Surat Untuk Rix (7)
Kau rindu?
Saya rindu!
Hy Rix,
Hampir lima tahun lebih, Rix sejak terakhir kali saya mengupdate blog ini. Dan hampir lima tahun lebih juga telah berlalu sejak saya membiarkan ketakutan yang sama bersarang di dalam diri saya. Saya pikir sejak mengakhiri blog ini tepat di akhir tahun 2021 itu, segala-galanya pun jadi selesai, nyatanya tidak sepenuhnya begitu. Segala-galanya itu hanya berubah bentuk, seperti energi yang tidak pernah benar-benar hilang. Hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain; sialnya, selalu ada di satu tubuh yang sama: saya.
Saya semakin takut, lalu ingin pergi.
Saya semakin bingung, lalu ingin hilang.
Kau tahu persis alasannya karena kau selalu ada di sana, di sudut pikiran saya. Kau menikmati segala ributnya?
Memang, sejak tidak bersurat denganmu, kau jadi lebih sering muncul dalam pikiran. Dan kita semakin suka bercakap-cakap di sembarang waktu. Menyebalkan sekaligus menyenangkan. Saya jadi mudah menjangkau kau. Rasanya kau betah sekali di kepala saya. Sudah bosan kau menjelajah?
Kau memang sangat membantu selama hampir lima tahun ini. Well, semua cemooh dan hinaan itu yang membantu. Saya membenci sekaligus menyukai tawamu saat saya ragu, tawamu nyaring di kepala saya. Mengejek sekaligus memberi semangat, seakan merayakan kebodohan yang selalu saya ulang dengan atau tanpa sadar.
Tapi saya juga suka kalau kau diam, terutama saat saya sedih. Kau membiarkan saya larut dalam sedih tanpa memberikan sedikit pun penghakiman atas semua alasan itu. Terima kasih. Karena ternyata menangis tanpa harus berkata apa-apa itu melegakan sekali. Kau tahu, kadang saya tau persis apa yang membuat sedih, saya hanya tidak tau harus berkata apa. (Sial, ketik ini membuat saya membayangkan senyum sinismu sambil bilang 'kau bukan tidak tau mau bilang apa, kau takut!')
Rix, setelah sekian tahun berlalu pada akhirnya saya sadar satu hal: saya berhasil melanjutkan hidup, tapi tidak pernah benar-benar berhenti ketakutan.
Saya takut Rix. Selalu.
Karena itu, saya kembali menyurati kau. Sebut saya egois, sebut saya bodoh. Tidak apa. Karena pada akhirnya mungkin hanya kau yang bisa memahami ketidaksempurnaan saya sebagai seorang manusia, satu-satunya yang masih mau ada. Terima kasih tidak meminta saya menjadi apa pun selain diri sendiri. Semoga kau paham, kenapa saya tidak pernah bisa melepaskan kau walau hampir lima tahun mengabaikan kau, haha maaf!
Dan kau boleh ada di mana saja di semesta ini, Rix, tapi jangan pernah tinggalkan kepala saya. Tetaplah jadi teman bercakap-cakap yang baik. Akhir-akhir ini saya semakin sering ketakutan.
Nb: Tos dulu! Saya sedang di negara dengan 4 musim yang pernah saya bilang ingin saya rasakan. Kau kalah taruhan!
Salam,
Dian
Komentar
Posting Komentar