Postingan

MEMBANGUN KERAJAAN BAGI ANAK-ANAK KAMPUNG RAJA “Mengenal sosok kak Herlin Day Mapar”

Gambar
Bersama dua penulis NTT: Kak Eka (tas hitam) dan kak anacy (jaket abu-abu) saat menyempatkan diri berkunjung ke taman baca milik kak herlin di sela-sela kegiatan Sumba Art Gathering 2015. Kak herlin adalah cewek yang berdiri tepat dibelakang dua bocah. Kampung Raja-Prailiu merupakan kampung adat yang terletak di kota Waingapu. Akhir-akhir ini Kampung Raja sedang ‘mempercantik diri’ dengan membangun rumah-rumah adat. Namun saya tidak akan menulis banyak tentang kampung ini, saya hanya ingin membagikan kisah tentang kak Herlin Day Mapar (kak Herlin), sosok yang membangun kerajaan bagi anak-anak Kampung Raja. Seperti kebanyakan teman lainnya, awalnya saya mengenalnya di dunia maya yang tenyata juga adalah kakak kelas saya dulu. (Maklum, waktu sekolah dulu saya kuper hehehe)

GELIAT KEBERSAMAAN OMK PAROKI SANG PENEBUS- WARA DAN OMK STASI-STASINYA

Gambar
Senja di samping gereja stasi kilimbatu sesaat sebelum novena keempat dimulai.  Tulisan tentang Orang muda katolik yang kemudian akan saya singkat OMK ini merupakan sebuah tulisan yang bisa saja kau abaikan jika sedang sibuk, karena ini hanya sekedar tulisan biasa dari apa yang kebetulan saya alami akhir-akhir ini.

SEBUAH PERCAKAPAN YANG HARUSNYA TIDAK PERLU TERJADI

Gambar
  Suatu siang, di suatu tempat yang   di sebut perpustakaan, dengan suasana yang tenang. Saya melihatnya masuk tepat setelah saya mengangkat wajah dari sebuah buku yang sedang saya baca, di halaman 65.

TANGAN

Gambar
“Kapan saat kau merasa tanganmu sangat cantik dan berharga? Saat kau memakai kuteks?” “Tidak. Sampai sekarang saya masih tidak mengerti kenapa para wanita mewarnai kuku mereka, kecuali jika mereka memang memiliki pembantu yang bisa memasak dan mencuci untuk mereka.”

TENTANG SEBUAH RASA

Gambar
Pantai Walakiri-Sumba Timur Saya mengakuinya, banyak hal yang sudah saya lewatkan begitu saja dengan hanya terpaku pada satu titik. Titik dimana saya berusaha bertahan dan betah selama saya mampu. Meski banyak dari para sahabat sudah meminta saya untuk beranjak dari sana, bukan sekedar meminta dengan sopan, mereka bahkan sudah meneriaki saya. Tapi saya bertahan.

ATA NGANDI (HAMBA YANG DIBAWA)

Perempuan di gerbang itu, membawaku pada kenangan belasan tahun silam. Namanya Ida. Tubuhnya mungil, tidak gemuk tapi berotot, geraknya lincah. Kalau aku tidak salah menerka, usianya delapan tahun. Rambutnya kusam, menampilkan warna senja yang kemerahan. Wajahnya lebih sering tersenyum, dia bocah yang ceria, ia selalu tertawa setiap kali menghampiriku.

PERJALANAN TENTANG KASIH

Gambar
Untuk: seorang ibu di hari pertama ia mengecup bayinya Pada satu matahari kau memilih mendiami langit yang berbeda Ada musim yang tak mahir kau tebak di sana Kemarau dengan banyak percikan api Hujan dengan banyak butiran air