Postingan

RAMBU DI DERMAGA WAINGAPU

“Kau harus pulang.” “Tidak.” “Pulanglah, tidak ada yang bisa kau lakukan di sini.” “Aku akan pergi.” “Pulang?” “Tidak” “Kemana?”

DI SINI

Kau menyebut namaku, dia dan mereka dengan aliran pekat dalam matamu yang beraroma gosong kata di hadapan beliau yang kita segani, seolah dengan begitu dendammu terlunaskan. Walau sejujurnya aku tak mengerti tentang apa yang sudah kau keramatkan tentang sebuah dosa yang membuatku terlihat begitu menjijikkan di matamu. Kau bakar habis namaku dengan rincian-rincian dosa yang hingga kini aku tak tau, dosa siapa yang kau katakan itu, hanya saja selalu kudengar namaku kau sebutkan dengan irama detak jantung yang tak lagi tenang.

PEREMPUAN

Aku masih mengingatnya. Perempuan itu. Yang menangis tersedu ketika dibawa oleh bidan menuju ruang operasi. Yang ketika kutatap matanya, aku langsung mengingatnya. Dia teman lamaku. Teman dekatku beberapa tahun lalu. Teman menyulam janji sekaligus teman yang mengingkari janji. Teman yang meninggalkanku lebih dulu.

YANG TERKENANG DARI MAULIRU

Semalam, ketika sedang asik membaca sebuah novel, aliran listrik mendadak berhenti. Seketika asrama dan sekitarnya menjadi gelap. Saya pun segera menyalakan sebatang lilin dan melanjutkan aktifitas saya dengan bantuan penerangan lilin.   Sesaat kemudian saya berhenti dan mengamati lilin yang mulai mencair. Tanpa sadar tangan saya sudah memainkan cairan lilin itu. Ah, saya teringat pada penggalan-penggalan kenangan yang sudah terlalu lama saya lewati.

MELEPASMU

Sekali   lagi, aku bertemu dengannya. Menjelang siang. Sebelas tahun, ya sebelas tahun. Tidak mungkin aku salah menghitungnya sebab telah sebelas lembar kartu ucapan selamat natal sekaligus selamat ulang tahun yang tersusun rapi dalam laci meja belajarku. Aku ingat dan selalu mengingatnya, saat di mana dia selalu katakan ingin pergi.

ANNA

Kelak kau akan mengerti mengapa tawamu bisa dinikmati banyak orang tetapi air matamu hanya bisa dilihat satu orang: dia.   Kau terbiasa mendengar orang berkata bahwa perempuan itu lembut, cengeng, rapuh, ayu dan berbagai kata lainnya yang mendeskripsikan perempuan sebagai sosok yang menyedihkan di matamu yang selalu nampak liar. Makanya kau ingin menjadi sosok yang berbeda. “Tapi kau juga seorang perempuan” “Lalu?” “Kenapa kau tidak menerima takdirmu?” “Persetan dengan takdir, persetan dengan perempuan versi orang-orang lainnya.”

THE TRUTH

“ Realistis?” “Ya, kau harus realistis.” “Aku sudah melakukannya.” “Dengan berlari meninggalkan impianmu?” “Tidak, aku hanya mengambil jalan lain.” “Meninggalkan impianmu?” “Mungkin suatu saat nanti aku bisa mendapati diriku sedang berlari di jalan impianku.” “Bagaimana jika tidak?”