Postingan

SANG PENULIS

Sinar di sekelilingmu terlampau menyilaukan. Namun mataku tetap kubuka, tidak ingin melewatkan setiap gerak yang kau pertontonkan di panggung megah itu. Entah kenapa, meski kutahu di sekelilingku gaduh, namun suaramu terdengar terlalu nyata di telingaku. Tidak satu kata pun terdengar kabur dalam lafalanmu. Bahkan, deru nafasmu yang memburu nada terdengar jelas di telingaku. Tanpa sadar, pikiran dan hatiku pun terfokus pada syairmu, lagumu dan padamu.

BENTANGAN LANGIT SIANG HARI

Gambar
Saya suka langit. Ya, langit di pagi hari, langit siang hari, langit senja maupun malam hari. Soal mengapa dan bagaimana ceritanya saya menyujai semua bentangan langi itu, tidak perlu saya jelaskan sekaligus, kelak cerita tentang potongan langit lainnya akan saya ceritakan lagi, namun khusus edisi ini, saya akan tulis tentang kecintaan saya pada langit di siang hari.

Puisi-puisi saya di Sinar Harapan, 22-23 Maret 2014

Gambar
DOA DAN LUKA Mencintai sungai di siang yang ganas adalah meraup semua doa-doa wanita yang di matanya terdapat sebuah bola yang senantiasa menggelinding dari timur hingga ke barat yang senantiasa terpelanting dari langit hingga ke palung samudra,

WHITE B’DAY

Gambar
Disana, di pantai itu, dengan laut dan langit yang biru, ada sekumpulan cewek-cewek cantik yang kompak berbaju putih dan wajah ceria, siapa mereka? sedang apa mereka? Mereka adalah kami, dan inilah kami,,,,, Hari ini matahari bersinar cerah. Di langit pendar cahaya matahari menyempurnakan biru langit dan tebaran awan putih yang tampak bersih. Bukan hanya di langit tapi juga di pantai ini, tebaran putih ombak bergejolak di pantai lasiana siang ini.

TENTANG MENYUKAI SEORANG FRATER

Perasaan paling menjengkelkan menurut saya adalah menyukai sesorang yang sudah sangat amat pasti tidak akan bersama dia di masa depan. Ya, seperti menyukai seorang frater, makhluk yang mempersiapkan dirinya untuk salah satu panggilan mulia di antara panggilan hidup lainnya (kadang saya berpikir: harus ko dia mendengar panggilan yang seperti itu?) Menyukai seorang frater seperti sedang mengharapkan pohon mangga berbuah semangka, atau menunggu hingga kucing bertelur. Sesuatu yang konyol.

KUPU-KUPU HITAM

Hari masih pagi ketika kau datang dan mengetuk pintu kosku. Kau membangunkanku dari mimpi indahku. Dan aku lalu membuatkanmu teh. Aku hanya menyodorkannya dengan tanganku. Namun, tidak seperti biasanya, kau bukannya menerima gelas teh itu tapi malah menyuruhku menyimpannya di meja. Kau juga tidak langsung meneguknya seperti biasa. Sejak pertama membuatkanmu teh, kau tidak pernah berkomentar tentang rasanya. Selalu kau anggap pas. Padahal terkadang gulanya kukurangi seperti saat ini, diakhir bulan kita harus berhemat. Kukurangi jatah gulamu dan di gelasku tak ada gula sama sekali. Tidak apa-apa, selalu seperti ini, aku tak butuh manisnya, aku hanya merasa senang saja merasakan ada aliran panas mengalir dalam tubuhku.

MENCINTAI DENDAM

Apa yang kau temukan dalam tatapan mataku adalah yang tak pernah kulihat. Kusebut itu kerinduan. Rindu yang teramat dalam, yang digali menggunakan pedang-pedang milik sang waktu yang amat tajam, membuatnya terlampau sakit dengan luka yang terus menganga. Bahkan sering menenggelamkanku dalam keheningan yang nyata. Di sana, adalah kejujuran yang paling jujur. Itu sebabnya aku selalu menunduk jika berbicara denganmu. Sungguh, aku tak berniat menyakitimu, hanya saja, aku merasa bahwa untuk itu aku harus menutup semua kejujuran itu.